Rabu, 25 Mei 2016

Fitrah Manusia Dalam Pandangan Islam


Fitrah Manusia Dalam Pandangan Islam
    Manusia, di samping sebagai pelaku atau subjek, juga merupakan objek atau sasaran dari pendidikan. Manusialah yang menjadi bahan baku yang akan dibentuk sesuai dengan keinginan pendidiknya. Para pendidik sebagai subjek yang bertugas mengarahkan dan membimbing anak didiknya dituntut agar memahami dan memiliki konsep yang jelas dan benar tentang hakikat dan karakteristik manusia, baik hakikat dan karakteristik manusia yang akan dididik maupun hakikat dan karakteristik manusia ideal yang dicita-citakan. Salah satu persoalan pokok yang perlu diketahui tentang manusia sebagai peserta didik ialah sifat-sifat dasar (pembawaan) yang dimiliki manusia ketika ia dilahirkan, Para ahli pendidikan sepakat menyatakan bahwa teori dalam pendidikan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pandangan tentang fitrah manusia.
       Para ahli pendidikan sepakat menyatakan bahwa teori dalam pendidikan sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh pandangan tentang fitrah manusia.Di dalam beberapa tulisan tentang konsepsi Islam mengenai manusia, dikemukakan bahwa kekhususan dan inti pandangan Islam terletak pada kata fithrah. Pendapat ini seakan-akan menyatakan bahwa kata fitrah sudah cukup jelas untuk menggambarkan hakikat dan karakteristik manusia menurut pandangan Islam.
 Pengertian kata fithrah 
      Secara etimologis, kata fithrah berarti al-khalq atau al-ibda’, penciptaan, yaitu suatu penciptaan yang belum ada contohnya. Kata ini dipakai untuk mengungkapkan penciptaan sesuatu yang sama sekali baru, belum ada contoh dan model yang dijadikan sebagai acuan. Bentuk fithrah merupakan bentuk masdar dari kata fathara yang berarti menciptakan. Ungkapan manusia dilahirkan dalam keadaan suci sebagai terjemahan kata fitrah kurang tepat. Agaknya, ungkapan itu lebih tepat diterjemahkan dengan pernyataan bahwa setiap anak dilahirkan dalam suatu kondisi tertentu sesuai dengan program Allah,  Nabi mengingatkan bahwa orang tua mempunyai tanggung jawab bila anak-anak yang mereka lahirkan kemudian menyimpang dari program yang telah dicanangkan Allah. Tentu saja sebaliknya, keberhasilan orang tua untuk membina anaknya sesuai dengan rancangan Allah merupakan amal saleh yang layak mendatangkan pahala bagi mereka. Hal ini erat kaitannya dengan hadis yang menyatakan bahwa anak yang saleh merupakan salah satu investasi orang tua yang keuntungannya masih akan didapatkannya meskipun mereka telah wafat.
Berdasarkan pemahaman di atas serta merujuk al-Quran dan al-Hadits, fitrah manusia menurut ajaran Islam dapat dijelaskan sebagai berikut
1. Manusia adalah makhluk psiko-fisik yang memiliki jiwa dan tubuh. Dari berbagai ayat al-Quran dapat diketahui bahwa jati diri manusia adalah makhluk psiko-fisik, yaitu suatu makhluk yang eksistensinya terdiri atas unsur jiwa (ruh) dan fisik (jasad). Gabungan kedua unsur inilah yang mewujud menjadi manusia  
2. Sifat-sifat jasmani (al-fithrat al-jismiah)  
Tubuh manusia merupakan alam materi yang memiliki sifat-sifat fisika. Ia tersusun dari 4 unsur yang membentuk alam materi, yaitu tanah, air, udara, dan api. Para filosof Muslim, seperti Ikhwan al-Shafa` mengemukakan bahwa perimbangan komposisi keempat unsur ini ikut mempengaruhi sifat-sifat manusia , Bentuk dan tatanan bagian dan anggota fisik manusia dirancang sedemikian rupa agar manusia dapat melakukan berbagai aktivitas yang dibebankan kepadanya. Hanya saja, ketika manusia diciptakan (dilahirkan), kondisi dari masing-masing bagian ini masih dalam keadaan lemah dan bersifat potensial. 
Hal ini dapat diketahui dari al-Quran surah al-Rum ayat 54 
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ 
مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ 
 artinya ; (Allah) , Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
3. Sifat-sifat Jiwa (al-fithrat al-ruhiyyat)
       Jiwa merupakan inti hakikat manusia. Unsur inilah yang mendapat tugas sebagai khalifah Allah di bumi. Unsur ini pula yang bertanggung jawab atas segala tingkah laku dan perbuatan manusia. Hanya saja, sangat disayangkan, unsur ini menjadi bagian yang penuh misteri.Itu pula sebabnya sebagian pakar berpendapt bahwa manusia diciptakan dalam keadaan bertauhid, Islam, dan suci. 
      Akan tetapi, pendapat ini hanya benar sepanjang manusia hanya dilihat dari sisi ruh asalnya. Para pemikir Muslim sepakat bahwa makhluk yang bernama manusia tidak hanya terdiri atas ruh semata, melainkan juga ada unsur fisik. Kondisi ruh ketika anak manusia dilahirkan, setelah bergabung dengan tubuh, tidak memiliki kesadaran akan amanah dan janjinya itu. Unifikasinya dengan tubuh material mengakibatkan ruh terhalang untuk mengetahui dan menyadari janjinya dengan Tuhan  
4.Sifat-sifat Psiko-Fisik (al-fithrat al-nafsaniyyat) 
Yang dimaksud dengan nafs (diri) adalah suatu hakikat yang terbentuk setelah unifikasi unsur fisik dan jiwa. Nafs tidak sama dengan ruh yang menjadi rahasia kehidupan dan juga tidak sama dengan jasad (tubuh)material yang bisa diobservasi.  Dengan demikian fitrah nafsaniah adalah keadaan dan sifat dari gabungan ruh dan fisik.Ia bukan merupakan keadaan dan sifat unsur ruh semata seperti yang telah dikemukakan di atas, melainkan keadaan dan sifat ruh yang telah menyatu dengan tubuh. Juga bukan keadaan dan sifat unsur fisik semata

sumber  : http://asrildps.blogspot.co.id/2011/06/fitrah-manusia-dalam-perspektif-islam.html

0 komentar:

Posting Komentar